Simbah putri asli Kartasura, rumah aslinya di sebelah timur beteng bekas kraton Kartasura. Sekarang rumah mbah buyut itu masih ada tapi sudah dijual oleh adik ragil simbah dan aku hanya bisa menyaksikannya dari luar pagar, baik pagar maupun bangunan itu masih asli sampai sekarang, dan masih terlihat kokoh dan indah.dengan langgar kecil di sebelah barat rumah.
Sedang mbah kakung berasal dari Kleco Koripan. Desa indah di sebelah barat Delanggu. Aku katakan indah karena jauh sebelum masuk desa sudah terdengar suara " deng deng deng deng deng. . . . . . . orang menempa besi dibuat cangkul, sabit, pisau dan alat lain.
Mbah buyutku, mbah Haji Ilham, ayah dari mbah putri punya 3 anak perempuan. Dan simbah selalu mencari anak mantu di pondok. Termasuk mbah kakungku yang sedang mondok di Mamba'ul Ulum yang sekarang Yayasan Pendidikan Al Islam Surakarta, yang diambil mbah buyut sebagai menantunya.
Karena mbah kakung dan mbah putri selalu sibuk, maka di rumah simbah di depan Pesanggrahan selalu ada keponakan mbah kakung dari Koripan selain pembantu lain yang selalu ada di rumah merawat rumah dan mengasuh ibu juga adik kakaknya.
Tentu saja anak anak simbah jadi anak anak yang manja. . . . . . . . .
Rabu, 07 September 2011
ANTING ANTING TERONG
Masih cerita tentang Ibu.
Di sore hari sepulang sekolah pagi Ibu dan kakak adiknya sekolah di Madrasah Diniyah Purwohutaman, yang sekarang jadi MI, SMP dan Diniyah Al Islam Kartasura. Simbah kakung termasuk salah satu pendirinya.
Seperti anak anak lain ibu juga termasuk bandel, atau pemberani? Sebelum pelajaran dimulai, biasa anak anak laki laki dan perempuan mandi di sendang yang terletak agak jauh di sebelah barat sekolah.
Siang itu ibu ikut juga mandi, berenang. Tapi karena anting antingnya baru, ibu pikir daripada hilang supaya aman anting anting dilepas dan diletakkan di atas batu bersama dengan baju. Ibu senang banget dengan anting itu katanya itu khusus didisain mbah kakung untuknya. anting panjang dengan hiasan buah terong di ujungnya. Kubayangkan seneng juga ya dibuatkan anting anting sendiri, karena bapaknya pedagang emas.
Belum selesai mandi, ternyata ulah ibu ketahuan mbah kakung, kan simbah juga ngajar di madrasah itu kalo sore, jadilah ibu buru buru naik dari sendang, berpakaian dan lar ike sekolah.
Sore, ketika sampai di rumah ditanya oleh mbah putri " Mana anting antingmu?" Ibu baru ingat dan tentu saja nangis tertahan karena takut mbah kakung.
Di sore hari sepulang sekolah pagi Ibu dan kakak adiknya sekolah di Madrasah Diniyah Purwohutaman, yang sekarang jadi MI, SMP dan Diniyah Al Islam Kartasura. Simbah kakung termasuk salah satu pendirinya.
Seperti anak anak lain ibu juga termasuk bandel, atau pemberani? Sebelum pelajaran dimulai, biasa anak anak laki laki dan perempuan mandi di sendang yang terletak agak jauh di sebelah barat sekolah.
Siang itu ibu ikut juga mandi, berenang. Tapi karena anting antingnya baru, ibu pikir daripada hilang supaya aman anting anting dilepas dan diletakkan di atas batu bersama dengan baju. Ibu senang banget dengan anting itu katanya itu khusus didisain mbah kakung untuknya. anting panjang dengan hiasan buah terong di ujungnya. Kubayangkan seneng juga ya dibuatkan anting anting sendiri, karena bapaknya pedagang emas.
Belum selesai mandi, ternyata ulah ibu ketahuan mbah kakung, kan simbah juga ngajar di madrasah itu kalo sore, jadilah ibu buru buru naik dari sendang, berpakaian dan lar ike sekolah.
Sore, ketika sampai di rumah ditanya oleh mbah putri " Mana anting antingmu?" Ibu baru ingat dan tentu saja nangis tertahan karena takut mbah kakung.
RUMAH INDAH DI MASA KECIL
Ini cerita tentang Ibukku.
Seneng sekaligus haru bila mendengar ibu bercerita.
Aku lupa kapan ibu mulai bercerita tentang masa kecilnya. Tapi aku coba mengingat tentang rumahnya dimasa kecil.
Rumah itu tepatnya terletak disebelah utara asrama Kopassus Kandang Menjangan, yang sekarang menjadi toko dan bengkel mobil.
Saat itu kandang menjangan adalah bener bener kandang menjangan, yang dikelilingi pohon bambu rimbun dan tinggi. Di dalamnya ada banyak rusa yang tinggal di hutan kecil yang mengelilingi danau. Ibu dan teman temannya sering masuk dan main di dalam hutan itu. Saat raja dan rombongan datang untuk tetirah/beristirahat, naik kereta kebesaran, anak anak dan orang tua berjejer memberi penghormatan. Dan raja selalu menyebar uang receh, sebenarnya itulah yang ditunggu anak anak selain bisa menyaksikan kereta yang indah dan kluarga kraton yang gemerlap.
Di danau itu Raja memancing, yang kata ibu ikannya sangat besar besar, Karena hanya ada sekitar 8 rumah di depan gerbang kandang tersebut jadi mereka termasuk yang juga kebagian ikan hasil tangkapan dari danau itu.
Usai memancing dan berburu menjangan raja/kluarganya biasanya istirahat di pesanggrahan yang terletak di sebelah timur danau.
Selain kandang menjangan yang aku rasa sangat indah, di sebelah utara rumah simbah juga ada sungai kecil berair jernih, tempat ibu dan temannya mandi,
Rumah simbah terletak paling depan, jadi persis di pinggir jalan Jogja solo yang sekarang. Kata ibu sebenarnya rumahnya tidak begitu besar. ruang paling depan, pendopo kecil ada meja meja dan kursi panjang tempat mbah kakung ngajar ngaji dimalam hari. Lalu ruang di bagian selatan pendopo dijadikan mushola tempat orang orang yang lewat bisa mampir solat. Sedang ruang sebelah timur adalah toko yang buka hanya ketika mbah putri hamil tua sampai selesai memberi asi anaknya. Karena usai itu mbah putri berdagang di pasar Kartasura, dagang lurik, batik juga emas. mbah putri adalah pedagang seperti mbah buyut dan juga semua sodaranya.
Satu lagi yang mebuat ibu sangat bahagia tinggal di situ adalah saat ada andong lewat yang membawa mbokde mbokde dan kakak sepupunya pulang dari berdagang. "Mbokde . . . . Yuuuuuu" teriak ibu. Lalu "ini, , , , , larilah kesini, ani oleh oleh dan uang untukmu. . . ., nanti dibagi ya dengan mas dan adikmu" Setiap sore selalu ibu nunggu kereta mereka. Tentu saja mereka selalu menyiapkan oleh oleh buat keponakannya, sebab simbah kakung adalah adik ragil mereka.
Ibuku, , , , manja dan dimanjakan.
Seneng sekaligus haru bila mendengar ibu bercerita.
Aku lupa kapan ibu mulai bercerita tentang masa kecilnya. Tapi aku coba mengingat tentang rumahnya dimasa kecil.
Rumah itu tepatnya terletak disebelah utara asrama Kopassus Kandang Menjangan, yang sekarang menjadi toko dan bengkel mobil.
Saat itu kandang menjangan adalah bener bener kandang menjangan, yang dikelilingi pohon bambu rimbun dan tinggi. Di dalamnya ada banyak rusa yang tinggal di hutan kecil yang mengelilingi danau. Ibu dan teman temannya sering masuk dan main di dalam hutan itu. Saat raja dan rombongan datang untuk tetirah/beristirahat, naik kereta kebesaran, anak anak dan orang tua berjejer memberi penghormatan. Dan raja selalu menyebar uang receh, sebenarnya itulah yang ditunggu anak anak selain bisa menyaksikan kereta yang indah dan kluarga kraton yang gemerlap.
Di danau itu Raja memancing, yang kata ibu ikannya sangat besar besar, Karena hanya ada sekitar 8 rumah di depan gerbang kandang tersebut jadi mereka termasuk yang juga kebagian ikan hasil tangkapan dari danau itu.
Usai memancing dan berburu menjangan raja/kluarganya biasanya istirahat di pesanggrahan yang terletak di sebelah timur danau.
Selain kandang menjangan yang aku rasa sangat indah, di sebelah utara rumah simbah juga ada sungai kecil berair jernih, tempat ibu dan temannya mandi,
Rumah simbah terletak paling depan, jadi persis di pinggir jalan Jogja solo yang sekarang. Kata ibu sebenarnya rumahnya tidak begitu besar. ruang paling depan, pendopo kecil ada meja meja dan kursi panjang tempat mbah kakung ngajar ngaji dimalam hari. Lalu ruang di bagian selatan pendopo dijadikan mushola tempat orang orang yang lewat bisa mampir solat. Sedang ruang sebelah timur adalah toko yang buka hanya ketika mbah putri hamil tua sampai selesai memberi asi anaknya. Karena usai itu mbah putri berdagang di pasar Kartasura, dagang lurik, batik juga emas. mbah putri adalah pedagang seperti mbah buyut dan juga semua sodaranya.
Satu lagi yang mebuat ibu sangat bahagia tinggal di situ adalah saat ada andong lewat yang membawa mbokde mbokde dan kakak sepupunya pulang dari berdagang. "Mbokde . . . . Yuuuuuu" teriak ibu. Lalu "ini, , , , , larilah kesini, ani oleh oleh dan uang untukmu. . . ., nanti dibagi ya dengan mas dan adikmu" Setiap sore selalu ibu nunggu kereta mereka. Tentu saja mereka selalu menyiapkan oleh oleh buat keponakannya, sebab simbah kakung adalah adik ragil mereka.
Ibuku, , , , manja dan dimanjakan.
BEGITU ?
"Haloo. . . . Eh, wingi sore Anti neng ngomahku lho", kataku.
"Pancen, temanmu yang begitu begitu itu, paling kalian ngomong tentang kesedihan dan masalah masalah kalian ya" kata Anto temanku di seberang sana.
" Yo iyalah, mosok aku ngomong bab kamu or teman teman yang laen. . . . "
Itu pembicaraanku dengan teman SMAku dulu.
Apanya yang salah dengan pertemananku dengan Anti? agak lama pembicaraan itu jadi pikiran. Dan membuat aku meneliti beberapa teman. Dan aku berkesimpulan memang aku lebih baik menyambung silaturahim dengan Anti dan teman yang seperti dia, dan aku merasa sreg dan bahagia bersama mereka. Karena aku bisa mendengarkan, berpendapat, dan sepertinya aku bermanfaat (GR?)
Tapi sungguh, kenapa ya ada teman tega ngomong gitu ?
"Pancen, temanmu yang begitu begitu itu, paling kalian ngomong tentang kesedihan dan masalah masalah kalian ya" kata Anto temanku di seberang sana.
" Yo iyalah, mosok aku ngomong bab kamu or teman teman yang laen. . . . "
Itu pembicaraanku dengan teman SMAku dulu.
Apanya yang salah dengan pertemananku dengan Anti? agak lama pembicaraan itu jadi pikiran. Dan membuat aku meneliti beberapa teman. Dan aku berkesimpulan memang aku lebih baik menyambung silaturahim dengan Anti dan teman yang seperti dia, dan aku merasa sreg dan bahagia bersama mereka. Karena aku bisa mendengarkan, berpendapat, dan sepertinya aku bermanfaat (GR?)
Tapi sungguh, kenapa ya ada teman tega ngomong gitu ?
BERSYUKUR
Mengajar anak-anak belajar membaca Al Qur'an adalah biasa. Alhamdulillah sudah kami lakukan sejak adik ragilku kelas 4 MI dan sekarang anaknya sudah ikut belajar membaca iqro.
Tapi yang masih membebaniku adalah adik sepupuku yang meninggal 16 tahun lalu, Ia berhasil mengajar iqro beberapa nenek usia antara 60 sampai 70 tahun sampai berhasil membaca Al Qur'an. Padahal dia laki-laki dan waktu meninggal baru berumur sekitar 25 tahun.
Di umurku yang 43 aku baru bisa mengajar anak anak, belum mengajar simbah simbah, Sungguh beban, sedangkan ibu ibu muda disekitarku aku yakin masih banyak yang belum bisa membaca Qur'an.
Sampai seminggu menjelang romadhon kemaren. doaku dikabulkan Allah. Sepulang jama'ah maghrib aku beranikan diri mendekati seorang jamaah dan bertanya " Bulik, nyuwun pangapunten penjenengan sampun saget maos Qur'an dereng?" "Durung", katanya. "Umpami belajar kalih kula, kerso mboten?" Diluar dugaan beliao menjawab "Alhamdulillah, koe gelem mulang aku, gelem gelem banget,aku wis sui pengen iso ngaji tapi sapa sing gelem mulang wong tua ngene?
Ya Allah engkau dengarkan doaku selama ini, begitu mudahnya , , , , , Sore berikutnya kami mulai belajar.
Alhamduliullah ini seminggu usai idul fitri sudah ada dua ibu yang semangat belajar, Seorang ibu usia kira kira 40, dan seorang oma dengan 5 cucu kira kira 55 tahun.
Rasanya lengkap kebahagiaan ini, sekitar 20th, 3 kali seminggu ngaji bersama anak-anak ditambah setiap hari belajar bersama oma dan mama.
Semoga Allah memberiku kesempatan lagi, dan lagi dan semoga aku selalu ikhlas, insyaallah.
Tapi yang masih membebaniku adalah adik sepupuku yang meninggal 16 tahun lalu, Ia berhasil mengajar iqro beberapa nenek usia antara 60 sampai 70 tahun sampai berhasil membaca Al Qur'an. Padahal dia laki-laki dan waktu meninggal baru berumur sekitar 25 tahun.
Di umurku yang 43 aku baru bisa mengajar anak anak, belum mengajar simbah simbah, Sungguh beban, sedangkan ibu ibu muda disekitarku aku yakin masih banyak yang belum bisa membaca Qur'an.
Sampai seminggu menjelang romadhon kemaren. doaku dikabulkan Allah. Sepulang jama'ah maghrib aku beranikan diri mendekati seorang jamaah dan bertanya " Bulik, nyuwun pangapunten penjenengan sampun saget maos Qur'an dereng?" "Durung", katanya. "Umpami belajar kalih kula, kerso mboten?" Diluar dugaan beliao menjawab "Alhamdulillah, koe gelem mulang aku, gelem gelem banget,aku wis sui pengen iso ngaji tapi sapa sing gelem mulang wong tua ngene?
Ya Allah engkau dengarkan doaku selama ini, begitu mudahnya , , , , , Sore berikutnya kami mulai belajar.
Alhamduliullah ini seminggu usai idul fitri sudah ada dua ibu yang semangat belajar, Seorang ibu usia kira kira 40, dan seorang oma dengan 5 cucu kira kira 55 tahun.
Rasanya lengkap kebahagiaan ini, sekitar 20th, 3 kali seminggu ngaji bersama anak-anak ditambah setiap hari belajar bersama oma dan mama.
Semoga Allah memberiku kesempatan lagi, dan lagi dan semoga aku selalu ikhlas, insyaallah.
Langganan:
Komentar (Atom)