Senin, 20 September 2010

teladan

Bila tak salah sudah sekitar 20 tahun menemani siswa belajar bahasa inggris,
tapi belum berhasil membuat mereka tau minimal mau menggunakan bahasa ini seminimal mereka mengerti(mungkin, karena gurunya saja nggak bisa ngomong pake bahasa inggris?)

Ok, segala sesuatu mutlak butuh keberanian, jiwa besar dan sabar.

Mengajar di sebuah sekolah pinggiran dengan siswa yang beruntung bisa sekolah, bersemangat sekolah dengan kondisi yang kadang membuat miris, tentu laen dengan bila berada di sekolah dengan kondisi sebaliknya dimana siswa dan ortu sama sama merasa bahwa sekolah, belajar adalah kebutuhan.

Tapi ternyata tidak sedikit dari mereka yang berhasil dalam studi, bisa melanjutkan belajar sampai perguruan tinggi, bekerja dan minimal tidak lagi menjadi beban orang tua tapi justru bisa membantu.

Suatu hari ketika saya di pasar, seorang bapak yang tua tampak rapuh karena kehidupannya yang selalu melelahkan, tiap saat tiap hari (mungkin), tersenyum pada saya seakan akrab "Monggo bu". Saya mengangguk, tersenyum "Monggo monggo Pak"  Dalam hati saya heran, siapakah bapak ini, menegur seakan sangat akrab. Kejadian ini berulang entah berapa kali, dan bapak itu selalu menegur hangat, dan selalu saya merasa bersalah karena tak mengenalnya sama sekali. Mau tanya, malu. Betapa menyakitkan bila beliau tau bila saya tak mengenalnya.

Mendorong, kadang menarik gerobag. Kadang sendiri, kadang bersama beberapa bapak tua laen.
Kadang gerobagnya kosong, kadang penuh menjulang. Pernah beras, padi, kursi untuk resepsi, bahkan kayu kayu gelondongan. Tapi tetap dimanapun bertemu, beliau selalu tersenyum "Monggo bu. . ."  ???

Beberapa taun kemudian baru terjawab "Bu, Alhamdulillah, anak kula Endang sampun ketampi kuliah" tentu dengan senyum lebar, mata berbinar.

Subhanallah, ternyata Endang's father. Dengan segala keterbatasan, tapi tak mematikan semangat, harapan.

Endang studied in an academy of foreign language in English depaertment of course. And now she is working in an export company. I came to her wedding party and met her father.

( Mbak Endang, maaf, smoga tak keberatan kau kujadikan teladan. Sebab kupikir adalah pantas. I'm proud of you. Be a sholehah doughter, wife and mother)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar